Jumat, 04 Februari 2011

Analisis pencitraan puisi sebuah tanya karya Soe Hok Gie

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Sastra berasal dari bahasa Sansekerta yaitu tulisan atau karangan, namun dulunya orang banyak yang menyebut dengan kesusastraaan, secara etimologi (menurut asal-usul kata) Su artinya baik atau indah dan Sastra artinya tulisan atau karangan sehingga arti dari kesusastraan berarti segala tulisan atau karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan dan ditulis dengan bahasa yang indah.
(Gazali dalam Pradopo, 1994:32) mengatakan yang hampir serupa bahwa sastra (castra) dari bahasa Sanksekerta yang artinya tulisan atau bahasa yang indah, yakni hasil ciptaaan bahasa yang indah, jadi kesusastraan ialah pengetahuan mengenai hasil seni bahasa perujudan getar jiwa dalam bentuk tulisan. Sedangkan yang dimaksud arti indah yaitu seni (kunst,art) segala sesuatu yang indah. Keindahan yang menimbulkan senang orang yang melihat dan mendengarnya, lebih luas lagi yaitu keindahan yang dapat menggetarkan sukma, menimbulkan keharuaan, kemesraan, kebencian atau peradangan hati. Hingga sekarang nilai keindahan (estetis) suatu karya sastra tidak diragukan lagi. Namun nampaknya makna ”keindahan” itu sendiri bukan hanya sekedar menemukan sifat-sifat yang indah melainkan sebuah karya yang begitu mengalir tetapi lebih dari itu. Pradopo juga mengutip pendapat Usman bahwa hasil pekerjaan pengarang atau penyair itu dinamakan kesusastraan atau seni sastra, sedangkan kesusastraan ialah hasil kehidupan jiwa yang terjamah dalam tulisan atau ragam bahasa tulis yang menggambarkan dan mencerminkan peristiwa kehidupan masyarakat maupun anggota masyarakat (Pradopo, 1994:32-33).
Budi Darma dalam bukunya Bahasa, Sastra dan Budi Darma, juga menyatakan Sastra bagaikan pisau bermata dua, sastra adalah ilmu, sastra adalah seni. Mana yang mana, tergantung pada titik beratnya. Teori sastra dengan segala variasinya, termasuk kritik sastra, adalah seni yang muncul sebagai ilmu. Novel, drama, cerpen, puisi, dan bentuk bentuk sastra yang lain, tentu saja baik, adalah ilmu yang muncul sebagai seni. (2007:65).
Selain itu Wellek juga mengemukakan bahwa sastra adalah suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni. (1993:3 - 14) ia juga menyatakan dalam bukunya istilah sastra sebagai imajinatif yaitu tulisan yang indah dan sopan atau Fiksi (Fiction), karena sastra selalu ditekankan pada suatu karya seni maka nilai estetis dalam karya sastra tersebut punya manfaat sendiri dan menjadi hal menarik untuk dikaji, ada baiknya nilai estetis itu akan lebih terarah bila dipadukan dengan teori ilmiah, terutama dalam puisi, lirik, prosa, drama dan cerita rekaan.
Salah satu karya sastra yang memiliki nilai estetis antara lain puisi, banyak orang berpendapat bahwa puisi merupakan kegiatan yang main main saja bahkan sifatnya hanya menghibur saja, itu berarti kita kurang memahami makna yang sesungguhnya dapat kita peroleh dari penyairnya lewat puisi tersebut untuk itu penting kita merubah paradigma tentang keberadaan puisi, sesungguhnya puisi sebagai karya yang serius dan penting untuk dimaknai.


1.2 Rumusan Masalah
Agar penelitian ini lebih dalam dan detail, maka kali ini peneliti menganalisis teori Pencitraan yang terkandung didalam Puisi berjudul Sebuah Tanya karya Soe Hok Gie antara lain:
a. Apa yang dimaksud teori pencitraan puisi?
b. Bagaimanakah teori pencitraan dalam puisi berjudul Sebuah Tanya Karya karya Soe Hok Gie?

1.3 Tujuan Penelitian
Salah satu batasan sastra adalah segala sesuatu yang tertulis atau bercetak, oleh sebab itu penyusun mempunyai beberapa tujuan dalam analisis ini antara lain:
1. Tujuan umum
Tujuan umum dalam penelitian ini untuk menganalisis teori pencitraan yang terkandung dalam Puisi berjudul Tanya Karya Soe Hok Gie?
2. Tujuan khusus
a. Mendeskripsikan bagaimana teori pencitraan, dan
b. Bagaimana teori pencitraan puisi berjudul Sebuah Tanya karya Soe Hok Gie

1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian tentang analisis teori pencitraan dalam puisi berjudul Sebuah Tanya karya Soe Hok Gie, ini mempunyai dua manfaat. yang pertama yaitu manfaat teoretis dan kedua manfaat praktis.
1.6.1 Manfaat Teoretis
Dari segi teoretis, penelitian ini dapat menyingkap nilai- nilai pencitraan pada puisi, khususnya para pengajar, pelajar maupun pecinta sastra, Disamping itu penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu dan menambah khasanah pembukuan sastra tulis di Indonesia.
1.6.2 Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini sangat bermanfaat antara lain:
a. Bagi mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang sedang mempelajari sastra serta mata kuliah lain yang berkenaan dengan sastra tulis khususnya puisi.
b. Memberikan informasi pada masyarakat terutama pembaca maupun pecinta sastra tentang manfaat yang diperoleh dari sebuah puisi, salah satunya puisi Sebuah Tanya karya Soe Hok Gie
c. Menunjukkan pada masyarakat terutama kalangan pengajar serta pelajar tentang pentingnya puisi, dengan harapan lebih banyak lagi masyarakat yang menggunakan puisi sebagai salah satu media pembelajaran
d. Peneliti berharap bahwa dengan adanya puisi juga mampu dimanfaatkan sebagai penanaman nilai-nilai.







BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Dan Ciri Puisi
Mempelajari sastra itu ibarat memasuki hutan, makin ke dalam makin lebat, makin belantara. Dan itu terungkap bahwa karya sastra adalah fenomena kemanusiaan yang kompleks dan dalam (Endraswara, 2008:8), salah satu contoh karya sastra itu adalah Puisi.
Kita harus menganggap bahwa puisi itu suatu pekerjaan yang serius dan butuh keahlian tentunya bermanfaat, bukan hanya pekerjaan iseng. (Wellek, 1995: 26)
Pradopo mengatakan puisi sebagai salah satu karya seni dapat dikaji dari bermacam macam aspeknya. Puisi dapat dikaji struktur dan unsur unsurnya, mengingat bahwa puisi itu adalah struktur yang tersusun dari bermacam macam unsur dan sarana kepuitisan.
Wirjosoedarmo menegaskan dalam buku Pradopo bahwa puisi itu karangan yang terikat oleh: (1) banyak baris dalam tiap bait (kupret/strofa, suku karangan); (2) banyak kata dalam tiap baris; (3) banyak suku kata dalam tiap baris; (4) rima; dan (5) irama. Tentunya ada perbedaan dalam mendefinisikan puisi pendapat Ahmad menyatakan bahwa bila unsur unsur dari pendapat pendapat itu dipadukan, maka akan didapati garis garis besar tentang pengertian puisi yang sebenarnya. Unsur unsur tersebut berupa: emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pencaindera, susunan kata, kata kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur baur. Jadi puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. (1999: 3-7).

2.2 Teori pencitraan
Citra (image) itu gambaran yang dihasilkan kesan mental. Citraan (imagery) adalah bayangan visual yang hadir lantaran ada sesuatu yang menyentuh saklar memori untuk mengaitkannya pada sesuatu yang lain. Sebuah kata, simbol, atau benda tertentu yang merangsang memori membayangkan atau memisualisasikan sesuatu atau peristiwa, termasuk kategori pencitraan. Maman S.Mahayana juga menuturkan dalam artikel sastra, ketika kata atau simbol itu mencitrakan sesuatu, memori seketika menghidupkannya sesuai dengan pengalaman masa lalu dan pengenalan pada sesuatu.
Pencitraan adalah gambaran angan yang bermanfaat dalam pemahaman puisi yang acuan maknanya bersifat indrawi. Citraan memungkinkan kita untuk mencitrakan atau membayangkan kata-kata. Citraan ini sangat bermanfaat dalam menghidupkan puisi. http://iwan.cahbag.us/
1. Citraan Penglihatan (visual), merupakan citraan yang dihasilkan oleh penglihatan
2. Citraan Pendengaran (auditory), merupakan citraan yang ditimbulkan oleh pendengaran
3. Citraan pengecap atau Rasa (tactile), citra yang ditimbulkan oleh indera pengecap (lidah)
4. Citraan Gerak (kinaestetik),citraan yang dihasilkan dengan asosiasi asosiasi intelektual.
5. Citraan Rabaan (Termal), citraan yang dihasilkan oleh perabaan

2.3 Biografi Singkat Pengarang
Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit seorang novelis dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman. Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Menurut seseorang peneliti, sejak masih Sekolah Dasar (SD), Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin karena Ayahnya juga seorang penulis, sehingga tak heran jika dia begitu dekat dengan sastra. Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih sekolah yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk Kanisius, sementara Soe Hok Gie memilih sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Strada di daerah Gambir.Gie juga mendapatkan salinan kumpulan cerpen Pramoedya: “Cerita dari Blora” yang termasuk langka pada saat itu. Pada waktu kelas dua di sekolah menangah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Namun Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah. Sebuah sekolah Kristen Protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang. Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas (SMA) Kanisius jurusan sastra. Sedang kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam. Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik.
Ada hal baik yang diukurnya selama menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kakak berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemuidan kakak beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah , sedangkan Hok Djin masuk ke fakultas psikologi. Di masa kuliah, Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru. Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya. Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth” Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya. Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya: “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” Tanggal 8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut. Alam buku hariannya tertuang pula puisi berjudul “ Sebuah Tanya” yang ia tulis saat di Gunung semeru. Tanggal 24 Desember 1969, Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

2.4 Kajian Puisi dengan Teori Pencitraan
Setelah membaca dan mengkaji puisi judul Sebuah Tanya karya Soe Hok Gie, serta menyesuaikan dengan teori pencitraan, peneliti mendapatkan hasil bahwa dalam puisi tersebut terdapat kutiban-kutiban yang mengandung nilai pencitraan sebagai berikut:
1. Citraan Penglihatan (visual),
Citraan penglihatan bisa dianalisis dalam kutipan berikut:
Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi

Salah satu kutipan tersebut tergambar adanya citra penglihatan, ditekankan pada kata ”kabut tipis turun pelan pelan’, citraaan yang tergambar adalah adanya kabut tipis yang terlihat menuruni lembah dengan pelan pelan. Terlihat pula pada kutipan berikut

” Melihat hutan-hutan yang menjadi suram”

Pada kutipan diatas jelas terlihat adanya citra penglihatan, adanya kata melihat,semakin memperjelas. Yang dimaksud adalah melihat hutan hutan. Namun pada kata suram citra memiliki makna konotasi arti kata suram yaitu hutan yang mulai tidak subur atau rusak keindahannya. Kutipan lainnya adalah

”lampu-lampu berkelipan di Jakarta yang sepi
haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram.”
Pada kata lampu lampu berkelip, jelas sebuah visualisasi yang bisa diartikan sinar sinar lampu kota(Jakarta) yang dapat dilihat mata telanjang. Gie memaparkan seolah olah keramaian yang biasa ada di kota menjadi sepi meski keadaan kota seperti biasa antara lain berkelipnya lampu lampu. Itu semua dipertegas dengan baris lanjutannya, mengenai hari yang menjadi malam, ia juga kembali menggambarkan seolah olah malam iyu Jakarta menjadi suasana yang sangat sepi, ia analogikan dengan kata muram. Soe Hok Gie juga memaparkan puisi ini dalam bahasa bahasa kias lainnya, yaitu sebagai berikut

”Wajah wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu.”

Pada kalimat Wajah wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita ketahui. Gie mencoba kembali memberikan gambaran tentang beberapa orang asing baginya saling berbicara satu sama lain dengan topik yang ia tak pahami saat itu, atau bisa jadi berbicara dengan menggunakan bahasa selain yang Gie kuasai.


2. Citraan Pendengaran (auditory)
Citraan pendengaran yang dapat peneliti analisis tak banyak, hanya beberapa kata yang melengkapi kalimat, dan sudah pula dipaparkan dalam citraan penglihatan yaitu ,
“Wajah wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti.”

Peneliti lebih menekankan pada kata berbicara, kata tersebut bisa divisualisasikan peneliti sebagai wujud aktifitas yang bisa didengar oleh panca indera.
3. Citraan pengecap atau Rasa (tactile),
Dalam analisis citraan ini tak dijuampai adanya kata maupun kalimat yang mengandung unsur citraan pengecap atau rasa.
4. Citraan Gerak (kinaestetik)
Dalam citraan kinestetik ini lebih dominant untuk peneliti analisis, antara lain sebagai berikut;
”apakah kau masih berbicara selembut dahulu?”
Citraan gerak yang tergambar yaitu pada kata, Berbicara. Begitu pula dengan kalimat lainnya,

”memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”
kabut tipis pun turun pelan-pelan”
”apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kau ku dekap, kau dekaplah lebih mesra, lebih deka”t
Pada kalimat kalimat diatas citraan gerak dapat terlihat pada kata minum, membenarkan letak leher kemeja, turun pelan pelan, membelai, dan dekap. Semua unsur gerak terjadi disana. Begitu pula dengan kalimat berikut:
“kau dan aku berbicara. tanpa kata..”
“apakah kau masih akan berkata, kudengar degap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua.”
Kata berbicara dan berkata merupakan suatu citraan gerak yang nyata, namun ada pula yang kias seperti kata degap jantung, gerak terjadi namun bukan suatu aktifitas yang terlihat mata.
5. Citraan Rabaan (Termal),
Sama halnya dengan citraan pengecap, peneliti tidak menemukan adanya citraan rabaan.
















BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Setelah membaca dan memahami serta menganilisis pencitraan yang terdapat pada kutipan-kutipan puisi berjudul Sebuah Tanya karya Soe Hok Gie dapat disimpulkan bahwa puisi tersebut mengandung beberapa , yakni:
1. Setiap puisi mampu dianalisis sesuai dengan unsur citraan, yakni penglihatan, pendengaran, rabaan, pengecap dan gerak
2. Puisi berjudul Sebuah Tanya karya Soe Hok Gie hanya memiliki unsur citraan penglihatan, gerak,, pendengaran dan pengecap saja.

3.2 Saran
Sebagai mahasiswa pascasarjana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan program studi Bahasa dan Sastra Indonesia, tidak harus berorientasi pada pendidikan saja, tetapi bahasa dan sastra adalah dunia yang luas.
Dari cerminan tersebut untuk mengetahui seberapa banyak sastra tulis khususnya puisi tapi jarang yang bisa memberikan nilai-nilai lebih (Citraan) yang mampu membuat perubahan kearah yang lebih baik, sebagian besar hanya bernilai estetis atau hiburan semata, namun meski begitu tetap saja pembaca harus bisa memilah dan memilih karya sastra yang apresiatif positif, namun meski begitu tetap saja pembaca di Indonesia ini musti pandai mengungkap dan mempelajari. Untuk mengetahuinya perlu diadakan penelitian-penelitian terhadap kesusastraan kita, sehingga sastra tulis tidak hanya dapat hiburan saja, tetapi juga dapat dibaca dipahami dan dijadikan media pembelajaran yang positif oleh masyarakat luas.
Mempelajari dan mengembangkan puisi puisi sastra sangat perlu ditingkatkan Oleh karena itu kita sebagai mahasiswa program pendidikan bahasa dan sastra Indonesia mempunyai tugas untuk menelusurinya dan terus mensosialisasikannya, sehingga dapat memperbanyak wawasan kesusastraan Indonesia.















DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin,. 1991. Pengantar Apresiasi Karya Sastra
Damono, Supardi Djoko,1990. Kesusastraan Indonesia Modern. PT Gramedia: Jakarta

Dwi Adi,.2001.Kamus Praktis Bahasa Indonesia. Fajar Mulia: Surabaya
Kartika, Pheni Cahya. 2009. Skripsi: Nilai Nilai Didaktis dalam Novel Laskar Pelangi karya Adrea Hirata. UMSurabaya: Surabaya

Muhammad Rusli.1982. Seluk Baluk perubahan sosial: Usaha Nasional: Surabaya

Pamungkas, Samsul. 1994. Sari Kata Bahasa Indonesia
Pradopo, Rachmat Djoko.1994. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra, Gajah Mada University Press: Jogyakarta

.1995.Beberapa teori sastra, Metode Kritik dan Penerapannya. Pustaka pelajar: Yogyakarta

Wellek, Rene. Agustin Warren. 1993.Teori Kesusastraan. PT Gramedia: Jakarta

http://iwan.cahbag.us/
http://id.answer.yahoo.com/question/index?qid=20090603002948AAK8Dy


.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar